Ibu muda korban KDRT cari keadilan demi ketemu anak ke KPAI, LPAI, Komnas anak dan Presiden tidak direspon

Ibu muda korban KDRT cari keadilan demi ketemu anak ke KPAI, LPAI, Komnas anak dan Presiden tidak direspon
Afdhal dan tim

Jakarta, Fenomenanews.com, -  Yenny Januari (32) mendatangi sebuah kantor hukum di Jalan KH Mas Mansyur, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (19/04/21) sore. Wanita berkulit putih itu sudah 2 bulan lebih tidak dapat bertemu dengan dua buah hatinya setelah diusir oleh sang suami berinisial EP dari rumah mereka di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Terlebih, Yenny juga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diduga dilakukan EP (suaminya, red). 

"Tanggal 10 Februari saya diusir sama suami dari rumah sekitar jam 11 malam. Dia (EP) dorong saya di depan anak saya yang nomor pertama, anak saya lihat. Dia (EP) usir saya. Segala ancaman keluar dari mulut dia. Saya diusir dari rumah hanya pakai baju tidur. Saya langsung lapor polisi apa yang saya alami," tuturnya kepada wartawan di Jakarta Pusat, Senin (19/04/21). 

Ia melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke Mapolrestro Jakarta Barat dengan nomor : LP / 119 / II / 2021 / PMJ / Restro Jak Bar, Kamis tanggal 11 Februari 2021. "Saya didorong dari rumah, jatuh berkali-kali sampai saya memar dan saya laporin ke polisi. Luka ada memar," tambahnya.

Sejak kejadian KDRT dan pengusiran itu serta lapor ke polisi, Yenny mulai tidak bisa bertemu dengan dua orang anaknya lagi. Kedua anak Yenny ada bersama sang suami berinisial EP. "Anak saya ditahan sama suami. Saya sudah datangi LPAI, KPAI, Komnas Perempuan dan Komnas HAM hingga melaporkan sampai ke Presiden RI tapi sampai saat ini belum bisa ketemu sama anak - anak," keluhnya. 

Yenny dan EP sudah menikah sejak 7 tahun lalu. Dari pernikahan itu, pasangan itu dikaruniai dua orang anak yang berusia 6 tahun dan 3 tahun. "Tujuannya hanya untuk ketemu dengan anak - anak dan mau membawa anak saya kembali itu saja. Apalagi semenjak tau saya melaporkan kasus KDRT, saya sama sekali tidak bisa akses untuk ketemu anak. Saya datang ke rumah, ada satpam dan tidak dibolehin masuk. Bahkan saya mau liat saja tidak dibolehin, pintu pagar saja tidak dibuka," keluhnya. 

Wanita asal Pangkal Pinang itu berharap agar dirinya dapat bertemu dengan kedua anaknya dengan cepat. Ia pun berharap sejumlah pihak yang sempat didatanginya dapat memberikan respon dan membantu dirinya agar segera berkumpul dengan anaknya. "Harapan saya yang pasti suami saya mau memberikan anak - anak itu, paling tidak saya bisa ketemu bisa kembali lagi. Saya tidak muluk - muluk lah," harapnya. 

Meski begitu, Yenny telah menyerahkan sepenuhnya kasus yang dialami dia ke kuasa hukum. Karena sejumlah lembaga yang didatanginya hanya sebatas melakukan pemanggilan 3 kali terhadap EP (suaminya). Namun tidak terlihat adanya itikad baik dari EP, sang suami tidak datang untuk klarifikasi setelah dilakukan proses pemanggilan. 

Kuasa Hukum Afdhal Muhammad menuturkan Yenny datang ke kantornya untuk meminta perlindungan hukum. Terutama terkait tidak diberi akses ibu kandung untuk bertemu dengan anaknya. “Atas permohonan tersebut saya sebagai kuasa hukum sudah mengirim surat baik itu ke bapak presiden Jokowi dan juga saya bersurat ke LPAI, KPAI, Komnas anak, dan Komnas Perempuan serta Komnas HAM tapi belum ada tindak lanjutnya. Belum ada respon. Saya sesuai permintaan klien pun mengambil langkah hukum memasukkan gugatan perceraian di PN Jakarta Barat, yaitu salah satunya minta perceraian atas suami istri ini," paparnya. 

Afdhal berjanji pihaknya akan memperjuangkan keadilan atas hak anak ke ibunya. "Jadi sesuai dengan ketentuan undang - undang, jika anak di bawah 12 tahun itu jatuh kepada ibunya. Itu yang kita akan minta," tegasnya. 

Sementara terkait pelaporan kasus KDRT yang menimpa kliennya tersebut, hingga kini kasus sudah masuk tahap sidik di unit PPA Polrestro Jakarta Barat. "Kita juga sudah koordinasi dengan penyidik di Polrestro Jakarta Barat. Kita sudah mendapatkan SP2HP dari penyidik Polres bahwa perkara ini sudah ke tahap sidik, ketingkat penyidikan di Unit PPA Polrestro Jakarta Barat," tutupnya. (A Roy)