PUNGUTAN “LIEUR” ITU WACANA SUDAH LAMA

PUNGUTAN “LIEUR” ITU  WACANA SUDAH LAMA
ilustrasi pungli

Bandung, Fenomenanews.com,- Pungutan liar yang terjadi dan dialami sejumlah calon petugas haji di Kemenag Jawa Barat yang terjadi di Majalengka, seperti  dilansiir sebuah media online, adalah isu yang sudah berkembang lama.

Potensi kebenaranya sangat  tinggi Cuma memang hitam putihnya sulit didapat.

Hal demikian disampaikkan H. Teteng Saftari SHI, Wakil Ketua Elemen Masyarakat Pemerhati Kementerian Agama dan Masalah Keagamaan (Elpaga). Menurut Teteng yang juga wartawan senior, isu itu terdengar bukan hanya terjadi di Majalengka, tetapi di beberapa Kabupaten Kota di Jawa Barat.

Memang waktu itu tidak jadi pemberitaan. Pasalnya mungkin wartawan belum dapatkan fakta hitam putih. Tapi sebenranya fakta hitam putih  itu tidak perlu amat bagi wartawan. Wartawan itu bisa memberitakan sesuatu berdasarkan ramainya kata orang. Wartawan itu kerjanya mendengar orang bicara, mencatat dan memberitkannya. Nalarnya bisa menimbang kebenaran wacana yang berkembang itu. Berbeda dengan penyidik yang regulasinya sudah ditetapkan harus memiliki setidaknya dua alat bukti,

Wartawan tidak. Kalau ada kesalahan ada instrument “hak jawab” untuk meluruskan dan memperbaikinya. Itu aturan Undang Undangnya . 

“Gitu aja kok repot” selorohnya.

“Kalau wartawan terus terusan menunggu bukti hitam putih apalagi 2 alat bukti, bakal sepi ini jagat’,  kata Wakil Ketua Elpaga itu.

Yang harus dilakukan oleh pimpinan Kemenag sekarang terutama kepala Kanwil Jawa Barat adalah upaya untuk menghindarkan hal itu terjadi lagi ke depan. Harus ditemukan modus dan solusi cara mencegah hal itu terjadi.

Korbannya kasus itu sudah cukup satu saja yaitu Kiki yang sudah dicopot jabatannya dan dipindah dari Majalengka ke Kantor Wilayah di Bandung, ucap Teteng mengakiri wawancara daring dengan sejumlah wartawan. ***EKPUR/Bois .