LAIN FACHRUL , LAIN PULA ADIB PEDE JALAN SOLANGAN WAE ?

LAIN FACHRUL , LAIN PULA ADIB PEDE JALAN SOLANGAN WAE ?

Bandung, Fenomenanews.com, - Menteri Agama Fachru Razi dapat dipastikan tak mengumbar bualan. Ia   ingin banget bekerja sama dengan  Media. Bahkan di mengaku tidak bisa kerja sendirian dan perlu dukungan  Media.

Tapi lain  cerita dengan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat. Dr. KH.  Adib M.Ag.   Sudah   3 bulan menjabat, Tapi   belum  mengunggah  sinyal apalagi pernyataan ingin mendapat dukungan dan bekerja sama  dengan Media.

Mengawali 3 bulan pertamanya Adib lebih banyak blusukan ke luar Kantor. Padahal seharusnya 3 bulan itu harus sudah take off membangun ummat di Jawa Barat ini. Jawa Barat ini cukup luas. Penduduknya terpadat di Jawa. Bahkan di Indonesia. Lima puluh juta lebih. Keaneka ragaman suku, budaya dan agama dan adat istiadat  marak di tanah orang Sunda ini. Perlu segera sentuhan tangan trampil. Apalagi Kanwil Kemenag Jawa Barat ini selama berbulan bulan dipimpin seorang Pelaksana Tugas, yang tentu saja otoritasnya tidak optimal.

Mampukah Adib memimpin seorang diri ? Apalagi jika penghapusan jabatan esselon III dan IV seperti direncanakan Presiden Joko Widodo benar benar diterapkan. Dia akan jadi  satu-satunya pejabat (esselon II)  yang tinggal. Memimpin 20 ribu lebih karyawan. Ia kayanya berani tampil “sobe”, sorangan bae. Tidak butuh kehadiran media sebagai penyeimbang. Beda dengan  bossnya yang mantan Jendral itu.

Kami belum  tahu jadi kami belum bisa bicara apapun sekarang. Bertemu saja belum. Bahkan dalam mimpi sekalipun.

“Ceorocos”  itu keluar dari mulut H. Teteng Saftari, Wakil Ketua Elemen Masyarakat Pemerhati Kementerian Agama dan Masalah Keagamaan (Elpaga).

Teteng mengambil contoh Pak Saeroji, Kepala Kanwil Kemenag Jabar yang diawal-awal jabatannya  “gemeteran”, tak pede tampil sorangan.

“Seminggu setelah dilantik beliau  minta ketemu kami. Saya bersama Ketua Elpaga H. Dedi Asikin  bertemu beliau di gedung BKM. Saksi hidupnya masih ada,  Pak Dony yang sekarang jadi Kepala Bagian TU. Waktu itu pak Dony menjabat Kepala Subag Inmas. Lalu ada juga pak Yudi Yusuf Yandi (alm).  Yudi menjabat  Kepala Seksi Sarpras  di Bidang Madrasah yang Kabidnya pak Saeroji. Yudi memang dikenal dekat dengan pak Saeroji yang sebelum jadi Kakanwil menjabat Kepala Bidang Madrasah. Dan pak Yudi pulalah yang nelepon pak Dedi Asikin menyampaikan keinginan pak Kanwil untuk  bertemu” ungkapnya.

Waktu itu Saeroji meminta dukungan kami. Persis seperti boss Fachru. Ia  mengaku” keueung”  dan tidak” pede”  jalan sendiri.

Pengangkatan Saeroji, kata H. Teteng,   memang di luar perkiraan. Sebelumya  tidak ada  wacana yang menyebut nama orang Bogor itu. Karena itu pak Saeroji sendiri merasa “ditembak”. Jadi dia tampil sebagai “kuda hitam”.

Kenapa Saeroji yang diangkat ? Siapa yang menyodorkan nama Saeroji kepada Menteri Agama Surya Darma Ali ?

“Kami tahu semua itu. Tapi ceritanya nanti saja  di belakang panggung  ya ” kata Teteng sembari “nyengir”  kepada wartawan yang mewawancarainya secara daring.

Waktu itu kan belum ada Panitya Seleksi (Pansel). Belum ada Open Biding. Unsur subyektifinya masih kental.

“Deuheus, deukeut dan duitnya masih kuat”  tambah  Teteng .

Sekarang setelah ada Pansel agak lumayan. Ada factor obyektifnya. Faktor  obyektif  itu ketika proses  seleksi masih di tangan Pansel. Tetapi sesuai aturan,  Pansel  harus menyisakan dan menyodorkan 3 nama kepada pejabat yang berwenang. Dalam hal esselon II kepada Menteri sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian. Nah dalam  3 besar ini factor subyektif itu bisa saja  muncul.  Bisa jadi karena  faktor 3 D itu. Wallahu a’lam.

Makanya tidak ada  jaminan bahwa  hasil  Pansel  yang  berada di nomor urut 1,  akan mendapatkan kursi yang diperebutkan.

“Tapi saya tidak berpikiran sama sekali bahwa pengangkatan Adib itu karena 3 D “ tegas H. Teteng.

Soal Adib yang tampaknya enjoy jalan “solangan wae”,  menurut Teteng, gak jadi soal. 

“Kenapa  dipikirin amat ?   Mau sama sama seperti pak Menteri Fachru, mau jalan sendiri sendiri oke oke saja , gak masalah kok. Tapi jangan juga jadi jargon bahwa sipil lebih berani dari tentara. “Gitu aja repot” katanya. 

Kita,  wartawan dan atau aktivis publik harus tetap berjalan sesuai fungsi dan peran  sebagai pengemban 4 Fungsi  Sosial. Wartawan dan aktivis publik harus melakukan  Sosial Support, Sosial Control, Sosial Participation dan Sosial Responsibility.

Soal bahwa kemugkinan terjadi konflik, itu juga gak masalah. Menurut Teteng konflik itu sebuah kewajaran. Jangankan antara   penyelenggara Negara dengan  lembaga publik yang memiliki fungsi dan peran yang berbeda, wong  di atas ranjang ranjang  saja, antara suami istri, konflik itu tidak bisa dielakkan.

Yang menjadi keniscayaan itu bagai mana kita  meminij konflik ini hingga tetap terkendali.

Tentu masih ingat, kata Teteng, ketika Elpaga melakukkan unjuk rasa sampai 4 kali. Tapi ujung-ujungnya baik. Hubungan pribadi dengan para pejabat Kemenag termasuk mantan mantan Kepala Kanwil tetap baik dan akrab.

Sebelum ada pandemic Corona, kalau ketemu, kami itu cipika cipiki. Pungkas H. Teteng Saftari yang selain aktivis publik juga seorang wartawan senior.- ***EKPUR/Bois.